JOGJAKU BANGKITLAH
Waaa..maaf baru kali ini bisa posting, karena berbagai macam alasan baru bisa posting kali ini. Banyak yang telah terjadi di negeri kita tercinta, banyak bencana di tanah air kita. Banjir bandang di Wasior, Gempa dan Tsunami di Mentawai, dan yang paling membuat saya berduka adalah Erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta. Ya di Yogyakarta, kota kelahiranku, kota saya tercinta. Terlebih lagi rumah dimana saya tinggal terkena imbasnya juga. Ini dikarenakan rumah saya hanya berjarak 12 km dari puncak merapi.
Erupsi tahun ini berbeda dengan erupsi pada th 2006 lalu. Saya sendiri tidak menyangka akan begini dahsyatnya merapi menunjukkan kekuatannya. Saat merapi meletus untuk yang pertama kalinya pada tanggal 26 Oktober 2010, saya masih tenang karena keluarga saya bilang masih aman.
Saat terjadi letusan itu saya berada di luar kota, karena keluarga saya bilang aman maka saya pun kembali ke jogja. Namun di hari pertama saya tidur di rumah, pada tengah malam saya dibangunkan secara paksa oleh adik saya. Dan tak lama kemudian kami disuruh mengungsi ke tempat yang lebih aman. PANIK. Ya saya merasa panik, bagaimana tidak suasana begitu mencekam, dan kami bertarung dengan waktu. Kami pun pergi mengungsi. Tapi ternyata di luar sedang hujan abu bercampur pasir.
![]() |
| saat kami mengevakuasi diri |
![]() |
| keadaan sekitar rumah saya pasca erupsi |
Saya merasa merapi akan baik-baik saja. Setidaknya saat saya sedang berada di Jogja beberapa hari itu. Tapi kemudian saat saya keluar kota lagi, merapi menunjukkan kekuatannya lagi, dan kali ini lebih dahsyat. Saya yang tidak tau bagaimana kabar keluarga saya pun menjadi panik. Dan kata mereka memang letusan-letusan di awal bulan November itu mengerikan. Keluarga saya pun mengungsi karena daerah rumah saya dinyatakan berada dalam zona bahaya. Sumpah aja, beneran hati saya tidak tenang berada di luar kota. Saya selalu mengontak keluarga saya, walaupun hanya sekedar basa-basi, tapi yang penting saya tau mereka baik-baik saja.
Letusan merapi tanggal 5 November 2010 memakan banyak korban. saya tidak menyangka hal ini akan terjadi, mungkin itu juga yang dirasakan para korban. karena jarak daerah yang luluh lantak karena wedhus gembel jarakya sangat jauh dengan puncak merapi. Itu mungkin menyebabkan jatuhnya banyak korban.
![]() |
| daerah yang luluh lantak diterjang awan panas |
Ya dan saat ini keluarga besar saya masih mengungsi. Karena daerah rumah saya masih belum aman. Terlebih lagi tidak ada listrik, air, bahkan signal HP aja gag ada. Dan sekarang saya telah kembali ke kota saya tercinta ini Yogyakarta. Ikut merasakan mengungsi, ikut merasa prihatin, tapi saya tetap mensyukuri yang ada pada saat ini karena kami lebih beruntung dari pengungsi-pengungsi yang tinggal di barak-barak pengungsian. Saya belum melihat keadaan rumah saya, kata orang-orang daerah itu kini terlihat seperti kota mati yang tidak ada kehidupan sama sekali. Orang-orang bilang suasana di sana masih mencekam.
Tapi kami yakin, suatu saat kami akan kembali ke rumah kami. karena memang di sanalah kami tinggal. Merapi selalu memberi kami lebih banyak. Karena memang kami selalu hidup berdampingan. Mungkin dia hanya menyadarkan kami untuk memperhatikannya (menjaga kelestariannya.red). Yogyakarta akan kembali pulih, karena kami kuat. Dengan kebersamaan dan kepedulian kami satu sama lain kami akan bangkit lagi. Yogyakartaku adalah kota yang nyaman dan akan selalu seperti itu. Dan semoga semua ini akan cepat kembali pulih karena saya rindu dengan suasana dulu. Suasana di sore hari saat semua orang berkumpul setelah beraktivitas, saya rindu suara-suara binatang di malam hari yang menemani saya tidur, saya rindu suasana di pagi dan siang hari yang senantiasa sejuk, dan saya rindu RUMAHKU TERCINTA yang menjadi saksi perjalanan hidup saya. Saya rindu semua itu...
Saya ikut berduka untuk teman-teman dan saudara-saudara saya yang telah kehilangan. Entah kehilangan kerabat ataupun harta benda. Saya berharap mereka diberi kekuatan dan kesabaran serta keikhlasan.
JOGJAKU AMAN, JOGJAKU NYAMAN.....





Comments
Post a Comment
comment